Pertanyaan paling gue benci yang sering dilontarin sama
guru, saudara, temen atau yang lainnya yaitu “Cita-cita lo mau jadi apa qin?” .
Yak gue kesel setiap orang nanya pertanyaan ini ke gue. Gue gaktau kenapa
penting banget nanyain cita-cita disamping kita belum tau dimana minat dan
bakat kita. Anehnya temen-temen gue setiap ditanya pertanyaan menyebalkan itu
selalu ngejawab dengan cita-cita yang menurut gue mustahil. Ada yang bilang mau
jadi pilot, astronot, begal, tukang tikung, *eh*. Aneh aja menurut gue, ohiya
pertanyaan ini pertama kali gue dapetin pas gue lagi duduk dibangku SMP.
Gue,orang yang waktu itu gak punya tujuan hidup, cuma bisa bilang gue mau jadi
guru. Guru yang punya uang banyak, pesawat, pulau dan planet. Gue orangnya
simpel, pengen gak keluar tenaga banyak tapi dapet uang banyak. Aneh ya gue? Ya
tapi itulah cita-cita semua orang. Gue gak tau gue bakal jadi apa? Berpenghasilan
berapa? dan yang paling aneh gue gak tau gue ini apa. Gue baru sadar kalo gue
manusia semenjak gue suka sama seorang cewek. Ternyata gue memenuhi syarat
sebagai manusia yaitu punya hawa nafsu.
Setelah
gue lulus SMP gue nyoba jadi seorang makelar. Makelar handphone tepatnya. Seorang
yang mengandalkan kemampuan komunikasi untuk menghasilkan uang. Banyak orang
menilai negatif pekerjaan ini, padahal memang pekerjaan ini lebih mengarah ke
hal-hal negatif. Kehidupan gue sebagai makelar keras banget, setiap setelah gue
ngadain transaksi gue ngerasa susah buang air besar. Untuk menjadi seorang makelar kita butuh
banyak akal. Akal untuk membuat semuanya terlihat baik walaupun kondisinya
tidak demikian. Namun satu hal positif yang gue dapat dari pekerjaan ini yaitu
gue dapet pelajaran bagaimana cara memengaruhi orang lain. Terkadang menipu
termasuk salah satu cara untuk memengaruhi. Kesimpulannya jadi makelar gak
seburuk dan seindah yang kalian kira.
Profesi
makelar gue berakhir setelah gue nobatin diri gue sebagai peserta ujian
nasional SMA, saat itu otak gue bener-bener kosong. Yang ada di otak gue bukan
materi pelajaran tapi gimana cara ngejual barang-barang yang udah ada ditangan
gue. Modal gue semuanya ada di barang dagangan yang belum laku. Boro-boro mau
mikirin beli kunci jawaban ujian nasional, bisa kebeli makan siang aja udah
syukur, alhasil sejak saat itu gue jadi jarang jajan. Akhirnya gue berhasil ngejual
semua barang yang ada ditangan gue dan gue bisa fokus belajar untuk persiapan
Ujian Nasional.
Warna-warni
semprotan pilox membekas di baju SMA gue. Yak akhirnya gue lulus dari SMA. Sampai
saat itu gue belum juga tau apa tujuan gue hidup, kenapa gue harus semangat
hidup, dan kenapa taik bentuknya sering lonjong-lonjong gak jelas. Sampai pada
akhirnya keajaiban datang saat gue ada di penghujung perkuliahan semester 1.
Yak gue kaya kemasukan rohnya Thomas Alfa Edison dimana gue mulai berfikir
untuk menata masa depan gue. Pikiran gue dipenuhi sama bayangan masa depan, gue
baru sadar kalo gue anak tunggal dari kedua orangtua yang berharap anaknya
sukses.
Gue mulai menjadi lebih dewasa,
sejak saat itu gue jarang maen sama temen-temen yang sebaya, gue lebih sering
menghabiskan waktu gue dengan orangtua yang berumur 25-40 tahun. Tujuan gue
simpel, semakin tua orang maka semakin banyak pengalaman gagalnya. Disitulah
kesempatan gue untuk mengetahui apa aja yang ngebuat orang gagal dan beberapa
solusinya. Gue mulai mempelajari bagaimana cara membangun sebuah usaha, memperlakukan
orang dengan baik dan mengambil keputusan dengan bijak. Sejak saat itu gue bisa
ngerasain jiwa bisnis yang ada di dalam diri gue. Akhirnya gue memutuskan untuk
menjadi pengusaha. Yak saat ini gue sedang merintis sebuah usaha yang bergerak
dibidang fashion. Singkat cerita akhirnya gue ngerti apa yang orang banyak
bilang tentang jati diri.

Keren brooh. pengalaman kita hampir sama apalagi bagian makelar hp. Sungguh begitu indahnya sebuah tipuan. buat seterusnya "wish you luck"
BalasHapusLeh uga qin hahaha
BalasHapus