Rabu, 06 Juli 2016

Hah? Jati Diri?

    Pertanyaan paling gue benci yang sering dilontarin sama guru, saudara, temen atau yang lainnya yaitu “Cita-cita lo mau jadi apa qin?” . Yak gue kesel setiap orang nanya pertanyaan ini ke gue. Gue gaktau kenapa penting banget nanyain cita-cita disamping kita belum tau dimana minat dan bakat kita. Anehnya temen-temen gue setiap ditanya pertanyaan menyebalkan itu selalu ngejawab dengan cita-cita yang menurut gue mustahil. Ada yang bilang mau jadi pilot, astronot, begal, tukang tikung, *eh*. Aneh aja menurut gue, ohiya pertanyaan ini pertama kali gue dapetin pas gue lagi duduk dibangku SMP.
    Gue,orang yang waktu itu gak punya tujuan hidup, cuma bisa bilang gue mau jadi guru. Guru yang punya uang banyak, pesawat, pulau dan planet. Gue orangnya simpel, pengen gak keluar tenaga banyak tapi dapet uang banyak. Aneh ya gue? Ya tapi itulah cita-cita semua orang. Gue gak tau gue bakal jadi apa? Berpenghasilan berapa? dan yang paling aneh gue gak tau gue ini apa. Gue baru sadar kalo gue manusia semenjak gue suka sama seorang cewek. Ternyata gue memenuhi syarat sebagai manusia yaitu punya hawa nafsu.
    Setelah gue lulus SMP gue nyoba jadi seorang makelar. Makelar handphone tepatnya. Seorang yang mengandalkan kemampuan komunikasi untuk menghasilkan uang. Banyak orang menilai negatif pekerjaan ini, padahal memang pekerjaan ini lebih mengarah ke hal-hal negatif. Kehidupan gue sebagai makelar keras banget, setiap setelah gue ngadain transaksi gue ngerasa susah buang air besar. Untuk menjadi seorang makelar kita butuh banyak akal. Akal untuk membuat semuanya terlihat baik walaupun kondisinya tidak demikian. Namun satu hal positif yang gue dapat dari pekerjaan ini yaitu gue dapet pelajaran bagaimana cara memengaruhi orang lain. Terkadang menipu termasuk salah satu cara untuk memengaruhi. Kesimpulannya jadi makelar gak seburuk dan seindah yang kalian kira.
    Profesi makelar gue berakhir setelah gue nobatin diri gue sebagai peserta ujian nasional SMA, saat itu otak gue bener-bener kosong. Yang ada di otak gue bukan materi pelajaran tapi gimana cara ngejual barang-barang yang udah ada ditangan gue. Modal gue semuanya ada di barang dagangan yang belum laku. Boro-boro mau mikirin beli kunci jawaban ujian nasional, bisa kebeli makan siang aja udah syukur, alhasil sejak saat itu gue jadi jarang jajan. Akhirnya gue berhasil ngejual semua barang yang ada ditangan gue dan gue bisa fokus belajar untuk persiapan Ujian Nasional.
    Warna-warni semprotan pilox membekas di baju SMA gue. Yak akhirnya gue lulus dari SMA. Sampai saat itu gue belum juga tau apa tujuan gue hidup, kenapa gue harus semangat hidup, dan kenapa taik bentuknya sering lonjong-lonjong gak jelas. Sampai pada akhirnya keajaiban datang saat gue ada di penghujung perkuliahan semester 1. Yak gue kaya kemasukan rohnya Thomas Alfa Edison dimana gue mulai berfikir untuk menata masa depan gue. Pikiran gue dipenuhi sama bayangan masa depan, gue baru sadar kalo gue anak tunggal dari kedua orangtua yang berharap anaknya sukses.
    Gue mulai menjadi lebih dewasa, sejak saat itu gue jarang maen sama temen-temen yang sebaya, gue lebih sering menghabiskan waktu gue dengan orangtua yang berumur 25-40 tahun. Tujuan gue simpel, semakin tua orang maka semakin banyak pengalaman gagalnya. Disitulah kesempatan gue untuk mengetahui apa aja yang ngebuat orang gagal dan beberapa solusinya. Gue mulai mempelajari bagaimana cara membangun sebuah usaha, memperlakukan orang dengan baik dan mengambil keputusan dengan bijak. Sejak saat itu gue bisa ngerasain jiwa bisnis yang ada di dalam diri gue. Akhirnya gue memutuskan untuk menjadi pengusaha. Yak saat ini gue sedang merintis sebuah usaha yang bergerak dibidang fashion. Singkat cerita akhirnya gue ngerti apa yang orang banyak bilang tentang jati diri.

2 komentar:

  1. Keren brooh. pengalaman kita hampir sama apalagi bagian makelar hp. Sungguh begitu indahnya sebuah tipuan. buat seterusnya "wish you luck"

    BalasHapus